Minggu, 13 Desember 2015

Memberikan Pendidikan yang Tepat bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Pada beberapa bulan yang lalu tepatnya pada hari Jumat tanggal 18 September 2015, saya dan beberapa teman saya mengunjungi salah satu SDLB yang ada di daerah Semarang, yaitu SDLB Talitakum. SDLB adalah singkatan dari Sekolah Dasar Luar Biasa yang melayani pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
saya dan teman-teman sampai di SDLB Talitakum pada pukul 07.30. kegiatan pertama yang kami lakukan adalah senam otak bersama di depan sekolah bersama dengan guru dan para siswa. senam otak tersebut di pimpin oleh salah seorang siswa secara bergilir. setelah melakukan senam otak sekitar pukul 08.00, kami berdoa bersama sebelum melakukan kegiatan sebelum pembelajaran pada hari itu. setelah beroda, kami bergegas untuk melakukan kegiatan kedua yaitu berolah raga di lapangan terdekat dari sekolah tersebut. saya dan siswa siswi didampingi oleh guru-guru berjalan bersama menuju lapangan. sesampainya di lapangan, kami melakukan pemanasan dengan berjalan mengililingi lapangan dengan bergandengan tangan.


setelah itu, siswa siswi dibebaskan untuk melakukan kegiatan olah raga yang mereka sukai seperti lempar tangkap bola basket dan lari pagi. anak-anak tampak sangat bersemangat dan sangat menikmati kegiatan tersebut.
seusainya olah raga di lapangan sekitar pukul 08.45, siswa-siswi segera kembali menuju sekolah untuk beristirahat dan dilanjutkan dengan kegiatan belajar mengajar. saat istirahat, saya dan teman-teman membagikan creackers dan susu untuk anak-anak. sungguh terharu hati kami saat mereka tampak sangat senang menerima sedikit hadiah yang kami berikan. mereka segera menghabiskan makanan yang kami beri dan bersiap untuk kegiatan belajar di kelas masing-masing.
SDLB Talitakum dibagi menjadi 6 kelas. pembagian tersebut bukan berdasarkan umur mereka seperti di sekolah pada umumnya, namun berdasarkan kemampuan mereka. dalam satu kelas biasanya hanya berisi 2 sampai 5 siswa saja dengan seorang guru. kegiatan belajar mengajar tersebut berisi latihan-latihan dasar yang masih sangat sederhana seperti menyusun balok, bernyanyi, membaca, dan berhitung.
dari kunjungan tersebut, kami mendapatkan banyak hal yang dapat kita pelajari yaitu:

  1. Terkadang kita mengeluh dengan tugas sekolah yang melelahkan, namun mereka justru tetap berusaha untuk menyesuaikan diri dan mengembangkan potensi mereka, walaupun sebenarnya secara mental mereka kesusahan.
  2. Kesabaran menjadi kunci utama dalam menangani anak-anak ini.
  3. Membuka diri untuk peduli dan sadar bahwa banyak anak yang membutuhkan perhatian lebih melalui orang disekitarnya, apalagi yang dapat bergaul akrab dengan  mereka.
disini saya mengambil salah satu ayat pedoman dari Yeremia 29:11, yg berisi

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan"

dari pengalaman tersebut, kami disadarkan bahwa sebenarnya anak berkebutuhan khusus sama dengan kita semua, namun mereka tidak seberuntung kita. oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu dan terus mendukung mereka agar menjadi lebih baik lagi. karena sesungguhnya yang mereka butuhkan adalah sebuah motivasi dan dorongan, bukan sebuah cemoohan.





Pada postingan saya kali ini, saya mengambil tema "Primordial" yang mengacu dari salah satu ayat kitab suci yaitu " Kekelaman Menutupi Bangsa-Bangsa ; Tetapi Terang Tuhan Terbit Atasmu, dan Kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. "(Yesaya 60 : 2)

Sebagai orang kristen dan anggota gereja, apa pertanyaan pertama yang terlintas dalam benak anda andai kata sebuah panti asuhan datang meminta donasi kepada anda? Sejauh pengamatan saya, yang sering terjadi adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan klasik seperti : “apakah latar belakangnya Kristen?” Jika ternyata Kristen, akan ditelusuri lebih jauh” Apa denominasinya?” mempelajari lebih jauh latar belakang pihak yang akan kita tolong sebenarnya bukan hal tabu. Masalahnya, sering kali keingintahuan itu muncul dari kecenderungan primordial kita.

 

Primordialisme alias kecendurungan menomorsatukan “Kaum sendiri” bukanlah hal baru. Umat Israel juga bisa digolongkan sebagai salah satu contoh paling tersohor dalam hal menjaga “Kemurnianya”. Kitab Yesaya yang kita renungkan hari ini berasal dari masa pembuangan Israel. Jika anda perhatikan, ayat-ayat sebelumnya berbicara mengenai penghukuman Tuhan. Namun, perikop ini berbeda. Tuhan meminta umat Israel agar juga menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain. Ketika umat ini sudah dapat memberkati bangsa lain, itulah tanda perkenan Tuhan kepada mereka.
Bukankah kita kerap seperti itu? Kita dengan senang hati membagikan berkat yang kita miliki dengan sesama dari latar belakang yang sama dengan kita tetapi bersikap curiga dan berat hati ketika ada kesempatan “menerangi” sesama dari latar belakang yang berbeda, baik dari segi agama, suku, atau bahkan denominasi gereja. Ingatlah, kita diberkati untuk menjadi berkat bagi siapapun tanpa kecuali.